Sekarang mau berterima kasih dulu, sama mama-papa, terutama sama mama, yang 6 tahun lalu maksa-maksa buat jadi dokter. Pernah terbesit keinginan buat berenti, pindah ke fakultas lain, meskipun akhirnya ga jadi karena ga mau bikin siapapun kecewa. Yang paling sering dan sampai saat ini, 5 tahun lebih sekolah di fakultas kedokteran, punya pikiran jalanin aja dulu, nanti lulus, dapet ijazah dan tinggal bilang ke mama "Ini aku udah jadi dokter ma, semoga mama puas dan bangga, ini ijazahnya buat mama, sekarang bebas, sekarang aku mau jalanin hidup aku sendiri. Makasih :')"
Jujur sampai sekarang saya merasa ga pantes, ga layak dan emang itu semua akibat dari ga kepengen sih jadi dokter. Ga kepengen jadi dokter-dokter pada umumnya maksudnya.
Jadi dokter yang make jas putih, ngurusin orang sakit, kerja keras
banting tulang pergi pagi pulang sore, dirumah buka praktik sampe larut
malam, hidupnya macam kerja rodi, punya tujuan mulia untuk pengabdian
tapi tetep berujung pada ga dihargai oleh khalayak, siapa yang kepengen
begitu? Ada aja rekan-rekan saya yang mulia, tapi bukan saya, saya ga
mulia-mulia amat. Dokter itu terlalu mulia, profesi mereka menyangkut manusia, meskipun ga semuanya begitu, menurut saya profesi begitu cuma cocok untuk mereka yang punya hati setulus malaikat (atau malah sekampret setan) :)
Tapi sekarang ga begitu lagi, semenjak saya tahu ada program studi kedokteran nuklir, semenjak itu pula saya punya tujuan untuk bergelut di bidang ini. Ditambah lagi sekarang, semenjak saya mengenal tentang dokter perusahaan/occupational doctor, semenjak itu pula saya merasa ke depan semuanya bakal menyenangkan, I've seen the brightest future!!!
Bagaimana saya melihat hidup saya ke depan :
Lulus dokter -> ; internship -> dokter perusahaan ->sekolah spesialis kedokteran nuklir :)
Ga perlu ribet-ribet mikirin dokter layanan primer dan semua bulshit yang berada di dalamnya, ga perlu mikirin berapa pasien hari ini, ga perlu mikirin jalan panjang berliku-liku di dalam sistem pendidikan yang amburadul akibat ulah senior dokter itu sendiri. Aah, pengen cepet-cepet 3-4 tahun lagi buat jadi dokter di perusahaan multinasional, pengen cepet-cepet 7-8 tahun lagi buat mendapat gelar dr. Hafiz Hari Nugraha, SpKN, insya Allah, FIX :)
Kisah dokter muda bukan koas yang ga pernah suka meriksa anak kecil dan pengen jadi dokter nuklir/radiologist
Minggu, 22 Juni 2014
Jumat, 21 Februari 2014
Forensik
Menjalani kepaniteraan klinik di forensik itu 100 kali lipat lebih menyenangkan dibandingkan bagian lain.
Terhitung 10 Februari - 17 Maret 2014 saya menjalani kepaniteraan klinik di departemen ilmu kedokteran kehakiman atau yang lebih akrab didengar sebagai departemen forensik. Setelah rotasi sebelumnya saya belajar bagaimana menangani kelahiran (bagian obgyn), kini berputar seratus delapan puluh derajat, saya belajar bagaimana menangani kematian.
Seperti detektif conan!
Sejak kecil saya senang membaca komik detektif conan. Untuk kalian yang juga senang membaca serial detektif conan, seperti itulah gambaran menjadi dokter forensik. Penuh teka-teki dan misteri, ketika ada suatu kasus terjadi (sebagian besar pembunuhan) seorang dokter forensik harus dapat menjawabnya dalam bentuk visum et repertum, apa penyebab kematiannya. Visum yang dikeluarkan seorang dokter forensik dapat menjadi alat bukti yang sah untuk membantu polisi (penyidik) untuk mengungkap fakta dibalik suatu kasus. Demi tegaknya keadilan sesuai dengan kata forensik itu sendiri yang berarti "demi keadilan".
Mungkin banyak rekan-rekan sesama dokter muda yang tidak menaruh minat pada kedokteran forensik, tapi bagi saya, ilmu ini cukup membuat takjub. Hal yang membuat ilmu ini menyenangkan untuk dipelajari adalah tantangan untuk memecahkan masalah. Selain itu forensik juga bukan melulu soal ilmiah yang membosankan, tetapi juga berkaitan tentang hukum (aspek medikolegal), bahkan juga kehidupan sosial dan politik, mengetahui cerita-cerita dibalik kasus yang terjadi seperti kasus yang minggu lalu masuk bagian forensik RSMH yang menjadi berita besar di sumatera selatan tentang sekretaris KPU yang membunuh selingkuhan.
Ah, betapa serunya departemen forensik Menjalani kepaniteraan klinik di forensik itu 100 kali lipat lebih menyenangkan dibandingkan bagian lain. Tidak ada jaga malam, tidak ada follow up pasien, tidak ada datang ke rumah sakit dini hari dan pulang sore hari di keesokan harinya. =))
Menjadi ahli forensik di kemudian hari? Mungkin saja, tapi minat terbesar saya masih jatuh pada kedokteran nuklir atau radiologi.
catatan N-Boy™
Terhitung 10 Februari - 17 Maret 2014 saya menjalani kepaniteraan klinik di departemen ilmu kedokteran kehakiman atau yang lebih akrab didengar sebagai departemen forensik. Setelah rotasi sebelumnya saya belajar bagaimana menangani kelahiran (bagian obgyn), kini berputar seratus delapan puluh derajat, saya belajar bagaimana menangani kematian.
Seperti detektif conan!
Sejak kecil saya senang membaca komik detektif conan. Untuk kalian yang juga senang membaca serial detektif conan, seperti itulah gambaran menjadi dokter forensik. Penuh teka-teki dan misteri, ketika ada suatu kasus terjadi (sebagian besar pembunuhan) seorang dokter forensik harus dapat menjawabnya dalam bentuk visum et repertum, apa penyebab kematiannya. Visum yang dikeluarkan seorang dokter forensik dapat menjadi alat bukti yang sah untuk membantu polisi (penyidik) untuk mengungkap fakta dibalik suatu kasus. Demi tegaknya keadilan sesuai dengan kata forensik itu sendiri yang berarti "demi keadilan".
Mungkin banyak rekan-rekan sesama dokter muda yang tidak menaruh minat pada kedokteran forensik, tapi bagi saya, ilmu ini cukup membuat takjub. Hal yang membuat ilmu ini menyenangkan untuk dipelajari adalah tantangan untuk memecahkan masalah. Selain itu forensik juga bukan melulu soal ilmiah yang membosankan, tetapi juga berkaitan tentang hukum (aspek medikolegal), bahkan juga kehidupan sosial dan politik, mengetahui cerita-cerita dibalik kasus yang terjadi seperti kasus yang minggu lalu masuk bagian forensik RSMH yang menjadi berita besar di sumatera selatan tentang sekretaris KPU yang membunuh selingkuhan.
Ah, betapa serunya departemen forensik Menjalani kepaniteraan klinik di forensik itu 100 kali lipat lebih menyenangkan dibandingkan bagian lain. Tidak ada jaga malam, tidak ada follow up pasien, tidak ada datang ke rumah sakit dini hari dan pulang sore hari di keesokan harinya. =))
Menjadi ahli forensik di kemudian hari? Mungkin saja, tapi minat terbesar saya masih jatuh pada kedokteran nuklir atau radiologi.
catatan N-Boy™
Minggu, 03 November 2013
Sarjana (Kedok)teran
Menjadi sarjana merupakan impian dan harapan para mahasiswa. Gambaran dunia kerja, gaji yang berlimpah ruah serta masa depan yang cerah menanti si empunya gelar tersebut.
Saya iri pada mereka, kawan-kawan lama, kini sebagian dari mereka telah menikmati hasil dari jerih payahnya.Sementara saya, masih menjadi sampah yang menengadahkan tangan kepada orang tua.
Minggu, 06 Januari 2013
Pict
Setelah menonton film perahu kertas. Merasa iri dengan tokoh keenan, ingin rasanya berhenti kuliah dan memutuskan untuk jadi pelukis saja. Tapi dari SD saya cuma bisa menggambar ini :
Jangan salah, berkat gambar ini saya bisa mendapatkan hadiah waktu training ESQ. Disaat semua orang menggambar pemandangan 2 gunung dengan jalan di tengahnya, saya satu-satunya yang menggambar ini.
catatan N-Boy™
Jangan salah, berkat gambar ini saya bisa mendapatkan hadiah waktu training ESQ. Disaat semua orang menggambar pemandangan 2 gunung dengan jalan di tengahnya, saya satu-satunya yang menggambar ini.
catatan N-Boy™
Sabtu, 05 Januari 2013
Sins
Terinspirasi dari blog walking semalam suntuk, tidak sengaja berjumpa dengan blog yang isinya pengakuan dosa sang pemilik blog. Di hari yang kurang baik karena kurang tidur ini, diperburuk dengan tanpa air putih di pagi hari, saya ingin menulis kisah saya, semacam pengakuan dosa. Berikut ceritanya :
Saya pernah menghisap rokok. Saya kurang paham ini termasuk dosa atau bukan, karena ustad, habib dan kyai yang saya cermati dan saya kenal ada bahkan banyak yang merokok. Terlepas dari pro kontra dosa/tidak dosa tapi yang pasti ini aib buat saya, aib yang terus saya rahasiakan dari orang tua saya selama bertahun-tahun karena takut dimarahin, dan dari orang-orang sekitar saya karena malu.
Saya menghisap rokok pertama saya ketika saya duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Saya yang waktu itu langganan juara kelas, bahkan juara loketa tingkat DKI bidang mutsabaqah hisbul quran (MHQ) ternyata tidak lebih seorang bocah dungu yang bisa diperdaya oleh rasa ingin tahu yang teramat liar.
Ikut-ikutan teman?sama sekali tidak, lingkungan saya baik, lingkungan sekolah dasar islam terpadu. Justru saya adalah si brengsek yang mengajak teman beramai-ramai untuk mencicipi tembakau bakar tersebut.
Awal mula peristiwa ini terjadi sore hari, saat saya dan teman-teman sepermainan (geng bersepeda) yang kerap pulang bersama nongkrong di sebuah jembatan. Kami biasa nongkrong disana, bersenda gurau, mengobrol ngalor ngidul tidak peduli waktu. Sampai akhirnya ada teman saya yang pergi ke warung, hendak membeli minuman awalnya. Saat itulah suara setan terdengar membisikkan sesuatu di telinga saya hingga tercetus kata "beli rokok, yuk!"
Saya lupa bagaimana saya meyakinkan teman-teman saya untuk membelinya, yang saya ingat kami akhirnya membelinya patungan bertiga. Kami tidak lekas mengonsumsinya sore itu. Karena saya yang menggagas idenya, saya bertugas untuk menyimpannya, di dalam tas yang terus saya jaga di rumah dengan perasaan khawatir dan gelisah semoga tidak diperiksa mama.
Keesokan harinya adalah hari pelaksanaan. Saya mengajak teman dengan jumlah yang lebih dahsyat dari kemarin, seluruh anak laki-laki yang ada di kelas. Singkat cerita sepulang sekolah kami berkumpul dan mencari lokasi yang tepat untuk eksekusi. Kami menemukan sebuah gang sempit di dekat sekolah, yang sepengetahuan kami jarang orang berlalu lalang di gang tersebut.
Kami berkumpul dan dimulailah ritual yang ditunggu-tunggu. Sebagai penggagas utama, dan orang yang membawa rokok tersebut sayalah orang pertama yang akan mencicipinya.Saya hidupkan rokok tersebut dan menghisapnya serta menghembuskan asapnya, "Fuuuuuh!". Sepertinya saya menikmatinya, saya hisap untuk kedua kalinya.
Kemudian muncul suara entah dari mana datangnya
"Hayoo, pada ngapain, saya tahu loh siapa gurunya"
*DEG*
Suara itu bagaikan petir di siang bolong. Mendengar suara itu, kami pun berlarian, bubar dalam sekejap, berhamburan menuju ke rumah masing-masing. Dan seketika itu saya stress, suara itu terus menerus terngiang di telinga saya, ditambah lagi saya adalah biang keroknya, dan hanya saya satu-satunya orang yang mencicipinya. Bayang-bayang kemarahan orang tua dan guru muncul terus menerus. Esok hari setelah peristiwa itu saya tidak masuk sekolah, gejala tipes selama sepuluh hari.
Mungkin sejak itu saya menjadi antipati terhadap rokok.Suara yang muncul itu sampai sekarang saya anggap suara malaikat, entah siapapun itu, dia yang menghindarkan saya dari barang berbahaya tersebut. Untuk berhenti merokok mungkin harus ada faktor pencetus yang menimbulkan trauma tersendiri bagi perokok tersebut. Saya beruntung itu merupakan rokok pertama dan terakhir saya. Tanpa perlu merasakan seperti seorang teman yang berhenti setelah sang ayah meninggal karena kanker paru dan kisah-kisah menyedihkan lainnya.
Selain rokok, pada masa itu saya begitu penasaran dengan bir bintang, beruntung embel-embel haram mencegah saya untuk mencobanya.
catatan N-Boy™
Saya pernah menghisap rokok. Saya kurang paham ini termasuk dosa atau bukan, karena ustad, habib dan kyai yang saya cermati dan saya kenal ada bahkan banyak yang merokok. Terlepas dari pro kontra dosa/tidak dosa tapi yang pasti ini aib buat saya, aib yang terus saya rahasiakan dari orang tua saya selama bertahun-tahun karena takut dimarahin, dan dari orang-orang sekitar saya karena malu.
Saya menghisap rokok pertama saya ketika saya duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Saya yang waktu itu langganan juara kelas, bahkan juara loketa tingkat DKI bidang mutsabaqah hisbul quran (MHQ) ternyata tidak lebih seorang bocah dungu yang bisa diperdaya oleh rasa ingin tahu yang teramat liar.
Ikut-ikutan teman?sama sekali tidak, lingkungan saya baik, lingkungan sekolah dasar islam terpadu. Justru saya adalah si brengsek yang mengajak teman beramai-ramai untuk mencicipi tembakau bakar tersebut.
Awal mula peristiwa ini terjadi sore hari, saat saya dan teman-teman sepermainan (geng bersepeda) yang kerap pulang bersama nongkrong di sebuah jembatan. Kami biasa nongkrong disana, bersenda gurau, mengobrol ngalor ngidul tidak peduli waktu. Sampai akhirnya ada teman saya yang pergi ke warung, hendak membeli minuman awalnya. Saat itulah suara setan terdengar membisikkan sesuatu di telinga saya hingga tercetus kata "beli rokok, yuk!"
Saya lupa bagaimana saya meyakinkan teman-teman saya untuk membelinya, yang saya ingat kami akhirnya membelinya patungan bertiga. Kami tidak lekas mengonsumsinya sore itu. Karena saya yang menggagas idenya, saya bertugas untuk menyimpannya, di dalam tas yang terus saya jaga di rumah dengan perasaan khawatir dan gelisah semoga tidak diperiksa mama.
Keesokan harinya adalah hari pelaksanaan. Saya mengajak teman dengan jumlah yang lebih dahsyat dari kemarin, seluruh anak laki-laki yang ada di kelas. Singkat cerita sepulang sekolah kami berkumpul dan mencari lokasi yang tepat untuk eksekusi. Kami menemukan sebuah gang sempit di dekat sekolah, yang sepengetahuan kami jarang orang berlalu lalang di gang tersebut.
Kami berkumpul dan dimulailah ritual yang ditunggu-tunggu. Sebagai penggagas utama, dan orang yang membawa rokok tersebut sayalah orang pertama yang akan mencicipinya.Saya hidupkan rokok tersebut dan menghisapnya serta menghembuskan asapnya, "Fuuuuuh!". Sepertinya saya menikmatinya, saya hisap untuk kedua kalinya.
Kemudian muncul suara entah dari mana datangnya
"Hayoo, pada ngapain, saya tahu loh siapa gurunya"
*DEG*
Suara itu bagaikan petir di siang bolong. Mendengar suara itu, kami pun berlarian, bubar dalam sekejap, berhamburan menuju ke rumah masing-masing. Dan seketika itu saya stress, suara itu terus menerus terngiang di telinga saya, ditambah lagi saya adalah biang keroknya, dan hanya saya satu-satunya orang yang mencicipinya. Bayang-bayang kemarahan orang tua dan guru muncul terus menerus. Esok hari setelah peristiwa itu saya tidak masuk sekolah, gejala tipes selama sepuluh hari.
Mungkin sejak itu saya menjadi antipati terhadap rokok.Suara yang muncul itu sampai sekarang saya anggap suara malaikat, entah siapapun itu, dia yang menghindarkan saya dari barang berbahaya tersebut. Untuk berhenti merokok mungkin harus ada faktor pencetus yang menimbulkan trauma tersendiri bagi perokok tersebut. Saya beruntung itu merupakan rokok pertama dan terakhir saya. Tanpa perlu merasakan seperti seorang teman yang berhenti setelah sang ayah meninggal karena kanker paru dan kisah-kisah menyedihkan lainnya.
Selain rokok, pada masa itu saya begitu penasaran dengan bir bintang, beruntung embel-embel haram mencegah saya untuk mencobanya.
catatan N-Boy™
Senin, 29 Oktober 2012
Jadi Apa?
"Hafiz, kamu kalo udah lulus mau jadi apa?"
Sembari tersenyum dan dengan nada bicara yang memberi kesan mengayomi pertanyaan itu terlontar dari mulut papa saat liburan semester silam. Saya mengerti maksudnya, saya bangga punya papa sepertinya, seorang yang cerdas, berwawasan luas, dan peduli akan masa depan putranya kelak. Ia kebanggaan saya.
Tetapi sayang saya hanya bisa menjawab, "belum tahu". Ya, saya belum tahu akan menjadi apa kelak. Dunia kedokteran ini dunia yang begitu luas, ada yang bilang seluas dan sedalam samudera. Luasnya mendatangkan begitu banyak peluang baik sekaligus kesempatan untuk tersesat dalam waktu bersamaan. Ini membuat saya bingung menentukan masa depan saya. Padahal tinggal tersisa beberapa bulan lagi hingga saya sarjana, dan sekitar 2 tahun lagi hingga saya mendapat gelar dokter penuh kebanggaan itu. Namun hingga saat ini saya belum tahu mau kemana saya selanjutnya, go with the flow, cuma itu yang bisa saya lakukan sekarang.
Dulu diawal-awal saya begitu menggebu-gebu untuk menjadi seorang ahli biologi molekuler setelah meraih titel dokter, namun seiring berjalannya waktu, saya tidak merasa baik dan kompeten untuk menjadi seorang peneliti seperti itu. Bahkan saya sudah melupakan hampir semua materi tentang itu.
Kemudian ada satu peluang lain yang ingin saya raih, menjadi dokter tentara. Menjadi seorang tentara adalah cita-cita saya sedari SD. Bocah mana yang tidak mau menjadi tentara? itu yang selalu ada di benak saya, hanya anak laki-laki pengecut yang tidak menginginkannya. Menjadi pahlawan/superhero, siapa yang tidak ingin. Tetapi semua pemikiran itu sudah kandas dihapus secara sadis oleh waktu. Perspektif baru tentang kehidupan membuat pikiran suci anak kecil menjadi hal-hal yang mustahil bahkan tidak patut direalisasikan, telah diganti dengan perspektif orang dewasa yang membosankan. Ya, sekarang saya tidak begitu menginginkan menjadi seorang tentara.
Dunia kedokteran terlalu luas
Pernah kepikiran ingin jadi spesialis patologi anatomi cuma karena ingin disebut "ahli kanker". Keren diawalnya, tapi kandas setelah tong fang pun katanya bisa mengobati kanker.
Pernah juga kepikiran ingin jadi ahli bedah cuma karena pernah melakukan sirkumsisi.
Pernah ingin jadi dokter olahraga biar bisa pergi ke madrid atau london.
Pernah juga kepikiran jadi dosen karena dimata mahasiswa bakalan keren.
Dan sekarang ini yang teranyar, ingin menjadi kepala instalasi ICU. Seperti dr Yusni pembimbing skripsi saya. Selama seminggu belakangan mendekam di ICU guna menyelesaikan skripsi, saya justru kepincut dengan ruangan ini. Bagi saya ini suder duper keren, tapi gatau lah, saya rasa sih hanya keinginan saat ini.
Dan masih banyak lagi keinginan jadi dokter ini, jadi dokter itu.
Jadi apapun kelak, saya ga peduli.
Kata papa di akhirnya :
Jadilah dokter yang melayani masyarakat, papa baca koran tuh dokter muda di pulau-pulau ujung indonesia. Ini bukan urusan prestise, ini urusan pahala. Papa udah sangat bangga kamu bisa jadi dokter, papa juga pengen anak papa jadi anak yang soleh dan bermanfaat untuk lebih banyak orang. Nanti buka aja klinik yang melayani masyarakat, di depan rumah situ juga boleh.
Entahlah, Tuhan yang tahu dan saya hanya menjalankan.
Jadi dokter apa aja bermanfaat untuk masyarakat kok, tergantung dari niat personalnya. Jadi dokter sekaligus wakil rakyat juga keren, liat aja nanti. :D
Sembari tersenyum dan dengan nada bicara yang memberi kesan mengayomi pertanyaan itu terlontar dari mulut papa saat liburan semester silam. Saya mengerti maksudnya, saya bangga punya papa sepertinya, seorang yang cerdas, berwawasan luas, dan peduli akan masa depan putranya kelak. Ia kebanggaan saya.
Tetapi sayang saya hanya bisa menjawab, "belum tahu". Ya, saya belum tahu akan menjadi apa kelak. Dunia kedokteran ini dunia yang begitu luas, ada yang bilang seluas dan sedalam samudera. Luasnya mendatangkan begitu banyak peluang baik sekaligus kesempatan untuk tersesat dalam waktu bersamaan. Ini membuat saya bingung menentukan masa depan saya. Padahal tinggal tersisa beberapa bulan lagi hingga saya sarjana, dan sekitar 2 tahun lagi hingga saya mendapat gelar dokter penuh kebanggaan itu. Namun hingga saat ini saya belum tahu mau kemana saya selanjutnya, go with the flow, cuma itu yang bisa saya lakukan sekarang.
Dulu diawal-awal saya begitu menggebu-gebu untuk menjadi seorang ahli biologi molekuler setelah meraih titel dokter, namun seiring berjalannya waktu, saya tidak merasa baik dan kompeten untuk menjadi seorang peneliti seperti itu. Bahkan saya sudah melupakan hampir semua materi tentang itu.
Kemudian ada satu peluang lain yang ingin saya raih, menjadi dokter tentara. Menjadi seorang tentara adalah cita-cita saya sedari SD. Bocah mana yang tidak mau menjadi tentara? itu yang selalu ada di benak saya, hanya anak laki-laki pengecut yang tidak menginginkannya. Menjadi pahlawan/superhero, siapa yang tidak ingin. Tetapi semua pemikiran itu sudah kandas dihapus secara sadis oleh waktu. Perspektif baru tentang kehidupan membuat pikiran suci anak kecil menjadi hal-hal yang mustahil bahkan tidak patut direalisasikan, telah diganti dengan perspektif orang dewasa yang membosankan. Ya, sekarang saya tidak begitu menginginkan menjadi seorang tentara.
Dunia kedokteran terlalu luas
Pernah kepikiran ingin jadi spesialis patologi anatomi cuma karena ingin disebut "ahli kanker". Keren diawalnya, tapi kandas setelah tong fang pun katanya bisa mengobati kanker.
Pernah juga kepikiran ingin jadi ahli bedah cuma karena pernah melakukan sirkumsisi.
Pernah ingin jadi dokter olahraga biar bisa pergi ke madrid atau london.
Pernah juga kepikiran jadi dosen karena dimata mahasiswa bakalan keren.
Dan sekarang ini yang teranyar, ingin menjadi kepala instalasi ICU. Seperti dr Yusni pembimbing skripsi saya. Selama seminggu belakangan mendekam di ICU guna menyelesaikan skripsi, saya justru kepincut dengan ruangan ini. Bagi saya ini suder duper keren, tapi gatau lah, saya rasa sih hanya keinginan saat ini.
Dan masih banyak lagi keinginan jadi dokter ini, jadi dokter itu.
Jadi apapun kelak, saya ga peduli.
Kata papa di akhirnya :
Jadilah dokter yang melayani masyarakat, papa baca koran tuh dokter muda di pulau-pulau ujung indonesia. Ini bukan urusan prestise, ini urusan pahala. Papa udah sangat bangga kamu bisa jadi dokter, papa juga pengen anak papa jadi anak yang soleh dan bermanfaat untuk lebih banyak orang. Nanti buka aja klinik yang melayani masyarakat, di depan rumah situ juga boleh.
Entahlah, Tuhan yang tahu dan saya hanya menjalankan.
Jadi dokter apa aja bermanfaat untuk masyarakat kok, tergantung dari niat personalnya. Jadi dokter sekaligus wakil rakyat juga keren, liat aja nanti. :D
Catatan N-Boy™
Langganan:
Postingan (Atom)

