Mungkinkah Takdir itu adalah bentuk pemaksaan Tuhan kepada makhluk ciptaannya?
Dalam ajaran islam, pada rukun iman ke-6, Allah SWT menyuruh kita untuk percaya pada Takdir. Qada' dan Qadar. What's different?
Qada' adalah takdir yang tidak dapat diubah. Sedangkan Qadar adalah takdir yang dapat diubah dengan usaha manusia itu sendiri.
secara teoritis, terlihat mudah.
Sekarang saya berada di Fakultas Kedokteran, apakah ini Qada atau Qadar? who knows!
Apabila ini Qada' saya hanya bisa pasrah, namun apabila ini Qadar saya mungkin sangat menyesalinya karena tidak berusaha untuk mengubahnya.
saya tidak tahu jawabnya, jadi saya hanya bisa pasrah dan menyesal. Penyesalan memang selalu datang di akhir.
Semua sudah terjadi, Apalah guna meributkan ini Qada atau Qadar, yang harus saya lakukan sekarang terus belajar dan belajar, hingga akhirnya saya bisa menerima, Apa guna menyesal?Hidup ini terus berjalan dan tidak dapat menunggu.
Saya sudah melangkah terlalu jauh, terlalu pengecut untuk berhenti dan tidak mungkin untuk kembali lagi. Hanya bisa terus berlari dan berlari. Hingga mencapai garis finish. God Knows the best for Me, this is my destiny.
Wahai Tuhan, sungguh hamba hanyalah makhluk lemah, Aku hanya bisa percaya pada ketentuanmu.
catatan N-Boy™
Kisah dokter muda bukan koas yang ga pernah suka meriksa anak kecil dan pengen jadi dokter nuklir/radiologist
Kamis, 23 September 2010
Rabu, 22 September 2010
Stuck on the Box and Lost in The Sea
Aku merasa terjebak dalam sebuah kotak kayu dan aku ingin segera keluar dari kotak kayu ini. Namun aku tidak memiliki cukup keberanian, karena kotak kayu ini telah hanyut di tengah Samudera yang luas.
Cita-cita, Sejak SD hingga masa SMA, tidak, bahkan hingga saat ini, aku tetap tidak memilikinya. Aku menjalani hidup tanpa memilik tujuan, meskipun sekarang aku berkuliah dan memiliki sebuah tujuan, namun aku merasa belum dapat menerimanya.
Waktu SD aku memiliki sebuah cita-cita, ketika guru bertanya "Mau jadi apa kamu kelak?", aku memiliki sebuah gambaran yang jelas, cita-cita seorang anak lelaki, menjadi seorang Tentara. Menjadi seorang yang dapat membela negeri ini ketika kedaulatan negeri ini diserang oleh pihak asing. Sungguh sebuah cita-cita lelaki sejati. Namun sayang, sistem pendidikan negeri ini tidak berpihak kepadaku. Perspektif seorang siswa SD dari banyakan kalangan sipil sepertiku dituntut untuk bisa masuk ke SMP dan mengejar sebuah cita-cita yang sesungguhnya aku tidak menyukainya. Aku hanya bisa menerima.
Masa-masa SMA, katanya adalah masa penentuan, kemana hidup ini akan berjalan, Teman-teman di kelasku mempunyai sebuah "Cita-cita", suatu hal yang aku tidak memiliknya. Aku tidak tahu ingin menjadi apa. Dalam kebingunganku ada sebuah dorongan dari kedua orang tuaku, cita-cita yang telah mereka canangkan untuk hidupku. Menjadi seorang dokter. Meskipun mereka tidak pernah membentak dan memaksa dengan kekerasan agar aku mau mengikuti cita-cita yang mereka tentukan, tapi dorongan itu terasa begitu kuat. Faktor psikologis, ya, mungkin itu jawabnya.
Aku terbiasa bersaing dengan kakakku, terkadang dia berada diatas, kadang aku yang diatas. singkat cerita kakakku masuk sebuah Fakultas Kedokteran Swasta. Di satu sisi aku ingin mengalahkannya, tapi disisi lain, aku tidak mau menjadi seorang dokter. tidak pernah sekalipun terlintas dipikiranku untuk menjadi seorang dokter. Aku adalah seorang murid yang muak dengan pelajaran biologi sewaktu SMA, bahkan nilai Ujian Nasional untuk Biologiku hanya 5,75. Sebuah nilai yang penuh kenistaan dan merusak ijazah SMA.
Aku bagaikan seekor domba yang digiring untuk masuk ke dalam sebuah kotak kayu bernama "Fakultas Kedokteran". Sekarang aku masuk dalam kotak kayu ini. kotak kayu yang dihanyutkan ke Samudera "Ketakutan", dengan sebuah dogma bahwa jika aku ingin mencapai suatu pulau kedamaian aku tidak boleh keluar dari kotak ini.
Meskipun orang lain mengira aku bahagia dengan semua ini, sesungguhnya dalam hati aku menangis. Aku hanya tidak dapat menolak.
I cant do anything, I cant open this box, Just Waiting and Trying to Survive.
Cita-cita, Sejak SD hingga masa SMA, tidak, bahkan hingga saat ini, aku tetap tidak memilikinya. Aku menjalani hidup tanpa memilik tujuan, meskipun sekarang aku berkuliah dan memiliki sebuah tujuan, namun aku merasa belum dapat menerimanya.
Waktu SD aku memiliki sebuah cita-cita, ketika guru bertanya "Mau jadi apa kamu kelak?", aku memiliki sebuah gambaran yang jelas, cita-cita seorang anak lelaki, menjadi seorang Tentara. Menjadi seorang yang dapat membela negeri ini ketika kedaulatan negeri ini diserang oleh pihak asing. Sungguh sebuah cita-cita lelaki sejati. Namun sayang, sistem pendidikan negeri ini tidak berpihak kepadaku. Perspektif seorang siswa SD dari banyakan kalangan sipil sepertiku dituntut untuk bisa masuk ke SMP dan mengejar sebuah cita-cita yang sesungguhnya aku tidak menyukainya. Aku hanya bisa menerima.
Masa-masa SMA, katanya adalah masa penentuan, kemana hidup ini akan berjalan, Teman-teman di kelasku mempunyai sebuah "Cita-cita", suatu hal yang aku tidak memiliknya. Aku tidak tahu ingin menjadi apa. Dalam kebingunganku ada sebuah dorongan dari kedua orang tuaku, cita-cita yang telah mereka canangkan untuk hidupku. Menjadi seorang dokter. Meskipun mereka tidak pernah membentak dan memaksa dengan kekerasan agar aku mau mengikuti cita-cita yang mereka tentukan, tapi dorongan itu terasa begitu kuat. Faktor psikologis, ya, mungkin itu jawabnya.
Aku terbiasa bersaing dengan kakakku, terkadang dia berada diatas, kadang aku yang diatas. singkat cerita kakakku masuk sebuah Fakultas Kedokteran Swasta. Di satu sisi aku ingin mengalahkannya, tapi disisi lain, aku tidak mau menjadi seorang dokter. tidak pernah sekalipun terlintas dipikiranku untuk menjadi seorang dokter. Aku adalah seorang murid yang muak dengan pelajaran biologi sewaktu SMA, bahkan nilai Ujian Nasional untuk Biologiku hanya 5,75. Sebuah nilai yang penuh kenistaan dan merusak ijazah SMA.
Aku bagaikan seekor domba yang digiring untuk masuk ke dalam sebuah kotak kayu bernama "Fakultas Kedokteran". Sekarang aku masuk dalam kotak kayu ini. kotak kayu yang dihanyutkan ke Samudera "Ketakutan", dengan sebuah dogma bahwa jika aku ingin mencapai suatu pulau kedamaian aku tidak boleh keluar dari kotak ini.
Meskipun orang lain mengira aku bahagia dengan semua ini, sesungguhnya dalam hati aku menangis. Aku hanya tidak dapat menolak.
I cant do anything, I cant open this box, Just Waiting and Trying to Survive.
Kentang - Forgive and Forgetting (Nice Story)
Seorang Guru Taman Kanak-kanak mengadakan sebuah permainan dengan muridnya. Ibu guru menyuruh tiap anak untuk membawa sebuah kantong plastik dan "kentang". Ibu guru menyuruh tiap satu kentang diberi nama satu orang yang dibenci. Jumlah kentang tidak dibatasi, tergantung pada berapa jumlah orang yang dibenci.
Pada hari yang disepakati, masing-masing murid TK membawa kentang dalam sebuah kantong plastik. Ada yang berjumlah 1, hingga 10 buah kentang. Seperti perintah sang guru, tiap kentang diberi nama orang yang dibenci.
Murid-murid diinstruksikan untuk membawa kentang tersebut kemanapun mereka pergi, bahkan saat di dalam toilet sekalipun, selama 10 hari.
Hari demi hari, kentang yang dibawa oleh murid mulai membusuk, murid-murid pun mulai mengeluhkan aroma kentang busuk yang sangat tidak menyenangkan, apalagi murid yang membawa 10 buah kentang.
setelah 10 hari murid-murid merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
Ibu guru pun bertanya :
"Bagaimana rasanya membawa kentang selama 10 hari? "
Keluarlah semua keluhan yang dialami murid-murid, intinya adalah seluruh murid merasa tidak nyaman membawa kentang-kentang busuk kemanapun ia mereka pergi.
Sang guru pun menjelaskan makna permainan ini :
" Seperti itulah perasaan benci dan dendam yang selalu kita bawa apabila kita tidak dapat memaafkan orang lain, sungguh sangat tidak menyenangkan membawa "kentang busuk" kemanapun kita pergi, itu baru dalam waktu 1 minggu, bagaimana jika kita terus membawa kebencian itu seumur hidup? sangatlah tidak menyenangkan dan menyiksa diri sendiri.
Karena itulah, lepaskanlah belenggu kebencian, dan berikanlah pengampunan kepada mereka yang kau benci. Apalagi orang yang kita benci adalah orang yang dulu pernah kita sayangi. Semakin kita tidak dapat melepaskan "kentang busuk" itu, kitalah yang akan menderita. Tidak ada jalan lain selain "Forgive and try to forgetting".
semoga Tuhan dapat melapangkan hati kita dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.
sumber : "the story of rotten potatoes" by Andra Vernandi
Pada hari yang disepakati, masing-masing murid TK membawa kentang dalam sebuah kantong plastik. Ada yang berjumlah 1, hingga 10 buah kentang. Seperti perintah sang guru, tiap kentang diberi nama orang yang dibenci.
Murid-murid diinstruksikan untuk membawa kentang tersebut kemanapun mereka pergi, bahkan saat di dalam toilet sekalipun, selama 10 hari.
Hari demi hari, kentang yang dibawa oleh murid mulai membusuk, murid-murid pun mulai mengeluhkan aroma kentang busuk yang sangat tidak menyenangkan, apalagi murid yang membawa 10 buah kentang.
setelah 10 hari murid-murid merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
Ibu guru pun bertanya :
"Bagaimana rasanya membawa kentang selama 10 hari? "
Keluarlah semua keluhan yang dialami murid-murid, intinya adalah seluruh murid merasa tidak nyaman membawa kentang-kentang busuk kemanapun ia mereka pergi.
Sang guru pun menjelaskan makna permainan ini :
" Seperti itulah perasaan benci dan dendam yang selalu kita bawa apabila kita tidak dapat memaafkan orang lain, sungguh sangat tidak menyenangkan membawa "kentang busuk" kemanapun kita pergi, itu baru dalam waktu 1 minggu, bagaimana jika kita terus membawa kebencian itu seumur hidup? sangatlah tidak menyenangkan dan menyiksa diri sendiri.
Karena itulah, lepaskanlah belenggu kebencian, dan berikanlah pengampunan kepada mereka yang kau benci. Apalagi orang yang kita benci adalah orang yang dulu pernah kita sayangi. Semakin kita tidak dapat melepaskan "kentang busuk" itu, kitalah yang akan menderita. Tidak ada jalan lain selain "Forgive and try to forgetting".
semoga Tuhan dapat melapangkan hati kita dan sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.
sumber : "the story of rotten potatoes" by Andra Vernandi
Rabu, 25 Agustus 2010
The Reason - Hoobastank
I'm not a perfect person
There's many things I wish I didn't do
But I continue learning
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with every day
And all the pain I put you through
I wish that I could take it all away
And be the one who catches all your tears
That's why I need you to hear
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you
I'm not a perfect person
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
I've found a reason to show
A side of me you didn't know
A reason for all that I do
And the reason is you
There's many things I wish I didn't do
But I continue learning
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
I'm sorry that I hurt you
It's something I must live with every day
And all the pain I put you through
I wish that I could take it all away
And be the one who catches all your tears
That's why I need you to hear
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you
And the reason is you
I'm not a perfect person
I never meant to do those things to you
And so I have to say before I go
That I just want you to know
I've found a reason for me
To change who I used to be
A reason to start over new
And the reason is you
I've found a reason to show
A side of me you didn't know
A reason for all that I do
And the reason is you
Minggu, 22 Agustus 2010
ternyata selama ini saya yang bodoh
saya tahu kesalahan saya
saya pun menyadari bahwa mungkin dia merasa saya kurang peduli terhadapnya
bodohnya saya
padahal dia terus menerus mengingatkan saya
saya tahu itu tapi terus melakukannya
mungkin yang saya tidak tahu kalau dia mulai terluka
dan baru saya sadari ternyata ia terus memendam luka
maafkan saya yang tidak peka
sudah terlambatkah semua ini?
awalnya ingin mengalah, ternyata saya salah....
kesalahan yang benar-benar tidak saya sengaja
tidak bermaksud menyakiti dan menjadi berubah
sungguh saya pikir sayalah yang mengalah
membiarkannya menikmati dunia barunya
ternyata saya salah
hati orang siapa yang tahu
selain dirinya dan Tuhan
Jumat, 30 Januari 2009
Continued Story Part 1
Neraka itu Panas Namun Membuatmu Menggigil
Orang-orang di sekitarku sepertinya mencemaskan kondisiku, tubuhku panas, suhu termometer menunjukkan 40.5 derajat celcius, jauh melewati batas normal 36-37 derajat celcius, namun aku menggigil, seperti berada di kutub selatan, di ujung dunia.
Benci, itulah yang aku rasakan, perasaan antipati terhadap nyamuk aedes aegepty yang telah membuatku menderita selama 9 hari terus menerus muncul di benakku. Liburan selama 2 minggu sama sekali tidak berarti, tanpa rekreasi, tanpa pulang ke kampung halaman, tanpa internet, tanpa erepublik, ym, dan sebagainya. Hanya berbaring di tempat tidur, pergi ke kamar mandi, menonton televisi di sebuah kamar yang sepi, hanya ada aku yang lemas, dan satu orang anggota keluarga yang mendampingiku. Aku tidak ingin berada di sini, aku ingin pulang secepatnya, namun tidak bisa, selama 9 hari aku harus terkurung dalam penjara berkedok medis ini.
Aku pun sama sekali tidak pernah menyangka akan masuk ke tempat ini, sebelumnya aku selalu segar bugar, tidak terlihat tanda-tanda kelelahan, bahkan aku sempat pergi ke bandung bersama teman sesama pemburu perguruan tinggi selama 2 hari. Aku tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhku, hingga pada suatu malam ketika aku tertidur, aku merasa kedinginan, tanpa Air Conditioner namun terasa sangat dingin, hingga aku bangkit dari tidurku dan mengenakan jaket tebal, namun rasa dingin itu tidaklah pudar, bahkan seluruh tubuhku merasa dingin, sangat aneh.
Pagi harinya semuanya kembali normal, aku merasa tubuhku sehat, dan aku dapat beraktivitas dengan baik, siang hari aku pergi ke cikampek bersama dengan keluargaku untuk mengunjungi famili kami, di tengah perjalanan aku merasa aneh dengan tubuhku, berbeda dengan yang semalam aku rasakan, kini semuanya sangat berlawanan, aku merasakan panas yang begitu hebat mengelilingi tubuhku, aku bahkan tidak dapat memakan apapun, donat yang dibeli di rest area km 19 aku muntahkan, bahkan saat berada di rumah makan sate maranggi aku tidak dapat makan apa yang aku suka, sate maranggi yang biasanya dapat aku habiskan dengan cepat satu porsinya tidak dapat aku masukkan ke dalam tubuhku satu tusuk pun, selalu aku muntahkan, hingga “promag” menolongku untuk memakan semangkuk sup.
Pada malam hari kami telah pulang dari cikampek dan sudah berada di rumah, aku pun kembali merasa dingin, saat itu ibundaku menyadari keanehan dalam diriku, di saat aku merasa kedinginan, beliau memeriksa suhu tubuhku, dan yang aneh, berdasarkan pemeriksaan ternyata suhu tubuhku tinggi, namun kenapa aku merasa sangat dingin?
Menyadari kondisiku yang aneh ini, ayah dan ibundaku membawaku ke sebuah rumah sakit, pukul 9.00 aku dibawa ke sebuah rumah sakit, ini membuatku curiga, karena biasanya aku diantar ke dokter langganan kami di daerah otista, namun kali ini orang tuaku dengan pasti membawa ke rumah sakit, aku sadar bahwa ada sesuatu yang gawat pada tubuhku. Sepanjang perjalanan aku mengeluh, kepalaku sakit, mual dan sebagainya, hingga akhirnya aku telah berada di ruang dokter dan dokter menganjurkan untuk periksa darah. Tidak ada yang aneh dengan hasil periksa darah itu, hanya trombositku saja yang sedikit di bawah normal, 156 bukanlah angka yang buruk. Namun aku dianjurkan untuk menunggu, beberapa jam, hingga aku bosan, namun tidak dapat berbuat apapun karena tubuhku sudah sangat melemah.
Setelah menunggu beberapa lama, ternyata aku harus menjalani periksa darah untuk ke dua kalinya, aku pun terkejut dengan hasilnya, anjlok cukup jauh dari pemeriksaan yang pertama. 113, aku tahu itu bukanlah angka yang baik untuk trombositku, kini aku berada antara 2 penyakit yang berkaitan dengan rendahnya jumlah trombosit, tipes dan demam berdarah, dan dokter berkata kedua penyakit itu ada dalam tubuhku.
Rawat inap, aku di anjurkan oleh dokter untuk menjalani rawat inap, pada awalnya aku tidak merasa itu adalah sebuah masalah yang besar, hingga akhirnya ibundaku berkata bahwa kamar VIP di rumah sakit itu sudah penuh, bahkan untuk kamar kelas 1 dan 2, hanya tersisa kamar kelas 3, akhirnya keputusanpun dibuat, aku dirawat di kamar kelas 3, dan apabila pasien kamar VIP ada yang sudah pulang, aku akan dipindahkan ke kamar itu, diantar dengan kursi roda oleh suster, aku memasuki kamar kelas 3 yang memuat 8 orang dan jika dibandingkan kamar VIP dengan luas kamar yang sama dan dihuni oleh 1 orang, kamar ini terlalu mengerikan, bahkan tidak sekat ataupun gorden yang membatasi pasien yang satu dengan lainnya, tidak ada privasi di sini, layaknya barak tentara. Akupun berpikir bahwa aku tidak akan sembuh berada di sini.
Kamar kelas 3, Sesuai dugaanku, kamar yang berisi 7 orang dari kuota maksimal 8 orang ini sangatlah gaduh, apalagi pada saat jam besuk, aku tidak suka ini, aku tidak dapat beristirahat dengan tenang, ingin rasanya aku bangkit dan memaki mereka semua, namun tidak kulakukan, justru aku memberikan ultimatum kepada ibundaku untuk sesegera mungkin pindah dari kamar ini.
Pasien-pasien selainku adalah Seorang pemuda, anak seumuranku, bapak berambut ikal, bapak kurus, pemuda gemuk yang sepertinya orang pengajian, dan pemuda berkulit hitam yang disebut ketua RT karena ia adalah yang paling awal masuk sini. Setelah kedatanganku datanglah pasien ke-8 yang melengkapi kamar ini, seorang bapak paruh baya, bapak ini orang betawi, bertambahlah kejengkelanku atas kamar ini, aku yakin kamar ini akan semakin gaduh karena kedatangannya.
Bersambung....
Orang-orang di sekitarku sepertinya mencemaskan kondisiku, tubuhku panas, suhu termometer menunjukkan 40.5 derajat celcius, jauh melewati batas normal 36-37 derajat celcius, namun aku menggigil, seperti berada di kutub selatan, di ujung dunia.
Benci, itulah yang aku rasakan, perasaan antipati terhadap nyamuk aedes aegepty yang telah membuatku menderita selama 9 hari terus menerus muncul di benakku. Liburan selama 2 minggu sama sekali tidak berarti, tanpa rekreasi, tanpa pulang ke kampung halaman, tanpa internet, tanpa erepublik, ym, dan sebagainya. Hanya berbaring di tempat tidur, pergi ke kamar mandi, menonton televisi di sebuah kamar yang sepi, hanya ada aku yang lemas, dan satu orang anggota keluarga yang mendampingiku. Aku tidak ingin berada di sini, aku ingin pulang secepatnya, namun tidak bisa, selama 9 hari aku harus terkurung dalam penjara berkedok medis ini.
Aku pun sama sekali tidak pernah menyangka akan masuk ke tempat ini, sebelumnya aku selalu segar bugar, tidak terlihat tanda-tanda kelelahan, bahkan aku sempat pergi ke bandung bersama teman sesama pemburu perguruan tinggi selama 2 hari. Aku tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhku, hingga pada suatu malam ketika aku tertidur, aku merasa kedinginan, tanpa Air Conditioner namun terasa sangat dingin, hingga aku bangkit dari tidurku dan mengenakan jaket tebal, namun rasa dingin itu tidaklah pudar, bahkan seluruh tubuhku merasa dingin, sangat aneh.
Pagi harinya semuanya kembali normal, aku merasa tubuhku sehat, dan aku dapat beraktivitas dengan baik, siang hari aku pergi ke cikampek bersama dengan keluargaku untuk mengunjungi famili kami, di tengah perjalanan aku merasa aneh dengan tubuhku, berbeda dengan yang semalam aku rasakan, kini semuanya sangat berlawanan, aku merasakan panas yang begitu hebat mengelilingi tubuhku, aku bahkan tidak dapat memakan apapun, donat yang dibeli di rest area km 19 aku muntahkan, bahkan saat berada di rumah makan sate maranggi aku tidak dapat makan apa yang aku suka, sate maranggi yang biasanya dapat aku habiskan dengan cepat satu porsinya tidak dapat aku masukkan ke dalam tubuhku satu tusuk pun, selalu aku muntahkan, hingga “promag” menolongku untuk memakan semangkuk sup.
Pada malam hari kami telah pulang dari cikampek dan sudah berada di rumah, aku pun kembali merasa dingin, saat itu ibundaku menyadari keanehan dalam diriku, di saat aku merasa kedinginan, beliau memeriksa suhu tubuhku, dan yang aneh, berdasarkan pemeriksaan ternyata suhu tubuhku tinggi, namun kenapa aku merasa sangat dingin?
Menyadari kondisiku yang aneh ini, ayah dan ibundaku membawaku ke sebuah rumah sakit, pukul 9.00 aku dibawa ke sebuah rumah sakit, ini membuatku curiga, karena biasanya aku diantar ke dokter langganan kami di daerah otista, namun kali ini orang tuaku dengan pasti membawa ke rumah sakit, aku sadar bahwa ada sesuatu yang gawat pada tubuhku. Sepanjang perjalanan aku mengeluh, kepalaku sakit, mual dan sebagainya, hingga akhirnya aku telah berada di ruang dokter dan dokter menganjurkan untuk periksa darah. Tidak ada yang aneh dengan hasil periksa darah itu, hanya trombositku saja yang sedikit di bawah normal, 156 bukanlah angka yang buruk. Namun aku dianjurkan untuk menunggu, beberapa jam, hingga aku bosan, namun tidak dapat berbuat apapun karena tubuhku sudah sangat melemah.
Setelah menunggu beberapa lama, ternyata aku harus menjalani periksa darah untuk ke dua kalinya, aku pun terkejut dengan hasilnya, anjlok cukup jauh dari pemeriksaan yang pertama. 113, aku tahu itu bukanlah angka yang baik untuk trombositku, kini aku berada antara 2 penyakit yang berkaitan dengan rendahnya jumlah trombosit, tipes dan demam berdarah, dan dokter berkata kedua penyakit itu ada dalam tubuhku.
Rawat inap, aku di anjurkan oleh dokter untuk menjalani rawat inap, pada awalnya aku tidak merasa itu adalah sebuah masalah yang besar, hingga akhirnya ibundaku berkata bahwa kamar VIP di rumah sakit itu sudah penuh, bahkan untuk kamar kelas 1 dan 2, hanya tersisa kamar kelas 3, akhirnya keputusanpun dibuat, aku dirawat di kamar kelas 3, dan apabila pasien kamar VIP ada yang sudah pulang, aku akan dipindahkan ke kamar itu, diantar dengan kursi roda oleh suster, aku memasuki kamar kelas 3 yang memuat 8 orang dan jika dibandingkan kamar VIP dengan luas kamar yang sama dan dihuni oleh 1 orang, kamar ini terlalu mengerikan, bahkan tidak sekat ataupun gorden yang membatasi pasien yang satu dengan lainnya, tidak ada privasi di sini, layaknya barak tentara. Akupun berpikir bahwa aku tidak akan sembuh berada di sini.
Kamar kelas 3, Sesuai dugaanku, kamar yang berisi 7 orang dari kuota maksimal 8 orang ini sangatlah gaduh, apalagi pada saat jam besuk, aku tidak suka ini, aku tidak dapat beristirahat dengan tenang, ingin rasanya aku bangkit dan memaki mereka semua, namun tidak kulakukan, justru aku memberikan ultimatum kepada ibundaku untuk sesegera mungkin pindah dari kamar ini.
Pasien-pasien selainku adalah Seorang pemuda, anak seumuranku, bapak berambut ikal, bapak kurus, pemuda gemuk yang sepertinya orang pengajian, dan pemuda berkulit hitam yang disebut ketua RT karena ia adalah yang paling awal masuk sini. Setelah kedatanganku datanglah pasien ke-8 yang melengkapi kamar ini, seorang bapak paruh baya, bapak ini orang betawi, bertambahlah kejengkelanku atas kamar ini, aku yakin kamar ini akan semakin gaduh karena kedatangannya.
Bersambung....
Langganan:
Postingan (Atom)